Thursday, July 9, 2009

Sejarah Topi Sihir/Sulap

Kalau kamu lagi nonton film-film yang ada tukang sihirnya, coba deh perhatiin topi si tukang sihir.

Pada umumnya topinya agak panjang dan ujung topinya meruncing tajem. Ini berbeda dengan topi tukang sulap, yang juga agak tinggi, tapi ujung topinya enggak meruncing. Iya kan? Tau enggak kenapa begitu?



Pertama-tama, kita harus perhatikan bahwa ada bedanya antara tukang sihir yang baik dan yang jahat. Kalau tukang sihir yang baik, bajunya biasanya dalam warna yang terang, topinya meruncing bagus, enggak bengkok dan penampilan si tukang sihir itu sendiri pun biasanya kelihatan rapih.



Kalau tukang sihir yang jahat, bajunya biasanya warnanya hitam, topinya meruncing, tapi biasanya bengkok atau ketekuk di tengah atau di dekat pucuk topinya dan penampilan si tukang sihir itu sendiri pun biasanya kelihatan kotor kayak enggak pernah mandi.



Yang jelas, tukang sihir baik atau jahat kedua-duanya topinya meruncing, iya kan?

Kenapa topi tukang sihir meruncing? Begini ceritanya:

TOPI

Baik di dunia Barat maupun di dunia Timur, bagian ubun-ubun kepala manusia dianggap sangat penting untuk sesuatu yang berhubungan dengan dunia paranormal. Contoh:



o di dunia yoga ini tempatnya cakra 1000 bunga

o di dunia tai chi ini tempatnya pei hui

o di dunia barat, kalau orang Kristiani dipermandikan, yang diguyur

adalah bagian ubun-ubun ini



Dengan kata lain, bagian sekitar ubun-ubun adalah pintu masuk/keluarnya kekuatan supra natural. Karena itu, tukang sihir pun melindungi bagian kepala tersebut dengan topi.


RUNCING

Runcing, karena pada zaman dulu para tukang sihir beranggapan bahwa ujung runcing akan menjadi pusat berkumpulnya energi. Bila energi ini sudah terkumpul cukup banyak, maka akan terjadi lompatan energi dari ujung runcing tersebut.



Tujuan dari para tukang sihir adalah agar mereka, setelah energinya keluar dari ubun-ubun, terperangkap ngumpul di bawah topi, terus tersalurkan ke atas ke arah ujung runcing yang kemudian diharapkan bisa membuat lompatan energi yang akan membuat hubungan singkat (kortsluiting) antara energi bumi/mortal dan energi kosmos/immortal/gaib. Diharapkan, dengan terjadinya kortsluiting ini maka si tukang sihir akan mampu menggunakan kekuatan kosmos untuk kebutuhan sihir-menyihirnya.


TOPI LURUS atau BENGKOK

Karena tukang sihir yang baik pada umumnya menggunakan energi untuk tujuan penyembuhan dan penyempurnaan, maka energi yang dibutuhkan tidak perlu mengalir keras, melainkan yang penting energi mengalir dengan kontinu namun lembut. Karena itu, topi yang mengurung energi di atas kepalanya dibuat lurus agar tidak ada hambatan energi. Bayangkan kalau kamu punya selang untuk nyiram kebun, kalau enggak ditekuk, kan mengalirnya deras namun lembut, iya kan?



Sebaliknya, karena tukang sihir yang jahat pada umumnya menggunakan energi untuk tujuan menyerang dan penghancuran, maka energi yang dibutuhkan harus mengalir keras dan dahsyat.



Ibarat selang untuk menyiram kebun tadi, kalau ditekuk kan alirannya jadi tiba-tiba bertekanan tinggi. Karena itu, topi si tukang sihir pun ditekuk sedikit, yaitu untuk membuat suatu tempat konsentrasi energi bertekanan tinggi.



WARNA HITAM atau PUTIH

Warna hitam bukan melambangkan “jahat” dan warna putih melambangkan “baik”.

Tapi hitam adalah “menyerap” dan “putih” adalah memantulkan. Karena tukang sihir yang jahat sifatnya adalah selalu ingin menguasai dan mengambil, alias menyerap, karena itu mereka memakai warna hitam. Sebaliknya karena tukang sihir yang baik sifatnya selalu penuh cinta kasih dan ingin selalu menolong, se-olah-olah memantulkannya kepada orang lain selain dirinya, maka mereka pakai warna putih.



Alasan lain adalah karena tukang sihir yang jahat mengandalkan ilmunya atas pengaruh bulan, alias hidup di malam hari, yang diwakili oleh warna hitam.

Sebaliknya, tukang sihir yang baik mengandalkan ilmunya atas pengaruh matahari, alias hidup di pagi/siang hari, yang diwakili oleh warna putih atau warna cerah lainnya.


TOPI TUKANG SULAP

Lho, kok topi tukang sulap enggak runcing? Alasan pertama adalah karena pengaruh budaya Eropa.



Pada zaman waktu sulap mulai populer di daratan Eropa, busana pria pada saat itu adalah ber-topi tinggi (seperti topi tukang sulap yang kamu tau), berjas panjang (jas “jangkrik” seperti jas tukang sulap yang kamu tau) dan berjalan dengan tongkat mewah (modelnya kayak yang kita suka pakai untuk “dancing cane”). Pesulap yang pengen dibayar mahal harus ngikutin trend orang perlente pada saat itu, sebab kalau enggak mereka enggak akan dianggap layak untuk masuk ke gedung mewah tempat tinggal orang-orang kaya/bangsawan pada saat itu. Akibatnya mereka enggak bakal disewa untuk maen sulap di rumah gedongan.

Alasan berikutnya adalah karena sulap bukanlah sihir. Jadi teori energi si tukang sihir yang kita ulas di atas tadi jadi enggak ada artinya. Karena si tukang sulap enggak bisa nyihir, maka kan dia musti nge-trik. Nah, topi yang tinggi ini cocok banget untuk ngumpetin peralatan dan/atau “load” yang dia butuhin untuk sulapan. Salah satu “load” yang beken dan jadi lambang tukang sulap adalah kelinci.



Kenapa kelinci? Enggak ada alasan khusus sih, tapi pada zaman itu kelinci adalah salah satu sumber santapan daging, sehingga sangat diminatin. Lagi pula, kelinci punya sifat kalau ditempat gelap dia ngedekem diem, tapi kalau liat sinar dia jadi aktip.



Nah, ini kan pas banget untuk sulapan. Kalau si kelinci lagi diumpetin dalam topi, kan gelap tuh, maka si kelinci ngedekem diem aja. Tapi begitu dia ditarik keluar, maka dia langsung aktip lompat sana-sini.



Dengan kata lain, sebetulnya antara topi tukang sulap dan topi tukang sihir sih enggak ada hubungannya. Topi tukang sulap lebih berdasarkan sifat praktis, sedangkan topi tukang sihir berdasarkan sifat magis.



Nah, semoga dengan mengetahui latar belakang ini kamu jadi bisa memilih dengan lebih baik dan bermotifasi dalam menentukan bagaimana penampilan (outfit) kamu sebagai artis nantinya.



Boleh-boleh aja kamu memainkan peran jadi si tukang sihir yang jahat dalam act kamu, kenapa enggak, namanya juga peran/lakon. Suka-suka kamu. Yang penting kan jalan cerita dan kesinambungannya dengan permainan sulap kamu. Semua harus harmonis dan cocok dengan watak dan sifat kamu pribadi.





TIP:

Hai kamu kamu sekalian para tukang sulap, dengan menyadari latar belakang di atas, coba deh kamu selalu tanyakan pada diri kamu:



“seperti apa kiranya kalau sulapan saya ini bukan trik, tapi bener-bener sihir?”.



Berpikir lah sebagai seorang penyihir!!!



Walaupun kita dalam kenyataannya enggak bisa bener-bener nyihir, sehingga kita terpaksa harus nge-trik, tapi efeknya harus sedahsyat kalau kita bener-bener bisa nyihir!!!!!!!!!!!!!!!!


SALAM MAGICIAN

0 Beri Komen Klik Sini:

Post a Comment

Woy.. Jgn spamming ea..

Di Klik Ane Doain Lancar Rejeki! :)